PEMBENTUKAN AWAN DAN PROSES TERJADINYA HUJAN

Siklus Hidrologi
Siklus Hidrologi
  1. AWAN
    Awan adalah sekumpulan tetes-tetes air atau kristal es yang berada dalam udara di atmosfer yang terjadi akibat pengembunan atau pemadatan uap air yang terdapat dalam udara setelah melampaui titik jenu. Sifat awan bisa berupa berupa cair, gas dan padat, karena dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

    • Awan dibagi atas 4 (empat) sesuai ketinggian;
      1. Awan Tinggi (High Cloud)
        Pada wilayah tropis, awan ini terletak pada ketinggian 6.000 m s/d 18.000 m, pada wilayah iklim sedang , awan ini terdapat di ketinggian 5.000 m s/d 13.000 m, sedangkan untuk wilayah kutub atau lintang tinggi awan ini berada di ketinggian 3.000 m s/d 8.000 m. Awan yang tergolong dalam jenis awan tinggi ini yang sesuai dengan kesepakatan meteorologi seluruh dunia adalah, sbb:

        • Awan Cirrus (Ci)
          Ciri-ciri awan Cirrus adalah:

          • Terlihat halus, dan berstruktur seperti serat , dan bentuknya mirip seperti bulu-bulu burung. Awan ini sering tersusun seperti pita yang melengkung di langit, sehingga terlihat seakan-akan tampak bertemu pada satu atau dua titik horizon.
          • Tidak menghasilkan hujan
          • Terdiri dari kristal-kristal es yang yang terjadi disebabkan oleh uap air yang naik pada level/tingkat yang mana suhu terlalu/kelewat dingin pada atmosfer.
          • Pinggiran awan ini terlihat tidak jelas dan berwarna putih.
        • Awan Cirro Stratus (Cs atau Ci-St)
          Ciri-ciri dari awan jenis ini adalah,sbb:

          • Bentuknya seperti kelambu putih yang halus dan terlihat rata menutupi seluruh langit sehingga tampak cerah, bisa juga terlihat seperti anyaman yang bentuknya tidak teratur.
          • Pada malam hari, menimbulkan Halo (lingkaran pada bulan yang bulat) yang mengelilingi bulan yang biasanya sering terjadi pada musim kemarau.
        • Awan Cirro Cumulus (Cc atau Ci-Cu)
          Ciri – ciri dari awan ini adalah,sbb:

          • Awan jenis ini terlihat seperti putus-putus dan penuh dengan kristal-kristal es sehingga bentuknya seperti sekelompok domba dan sering menimbulkan bayangan.
  2. Awan Menengah (Messo Cloud)
    Untuk wilayah tropis, awan ini terdapat pada ketinggian 2.000 m s/d 8.000 m, untuk wilayah iklim sedang awan ini berada pada ketinggian 2.000 m s/d 7.000 m, sedangkan untuk wilayah lintang tinggi/kutub awan ini berada pada ketinggian 2.000 m s/d 7.000 m.
    Yang termasuk dalam jenis awan menengah ini, antara lain:

    • Alto Cumulus (Ac)
      Ciri-ciri dari awan ini adalah, sbb:

      • Terlihat gumpalan-gumpalan kecil yang dalam jumlah banyak .
      • Berwarna abu-abu atau kelabu dan terkadang warna putih yang terlihat pada saat waktu senja
      • Bergerombol  dan sering berdekatan dan terkadang seperti bola yang agak tebal.
      • terlihat jelas tersisih antara satu sama lain dengan warna kelabu atau putih yang membedakan dengan Cirro Cumulus (Cc)
    • Alto Stratus (As)
      Ciri dari awan Alto Stratus adalah, sbb

      • Berwarna kekelabuan dan meliputi hampir secara keseluruhan langit.
      • Awan jenis ini menghasilkan hujan apabila dalam keadaan tebal dan awan jenis ini terbentuk pada waktu senja hingga malam hari dan menghilang apabila matahari terbit.
  3. Awan Rendah (Low Cloud)
    Awan jenis ini terdapat pada ketinggian kurang dari 2.000 m, hampir secara keseluruhan awan rendah menghasilkan presipitasi / endapan. Yang tergolong dalamm jenis awan ini adalah,sbb:

    • Strato Cumulus (Sc)
      Ciri dari awan ini adalah, sbb:

      • Berbentuk perca-perca atau lembaran-lembaran yang berwarna abu-abu atau keputih-putihan atau campuran dari warna-warna tersebut.
      • Awan jenis ini dan secara keseluruhan awan rendah menghasilkan hujan.
    • Stratus (St)
      Ciri-ciri dari awan ini adalah, sbb:

      • Lembaran-lembaran atau lapisan-lapisan dengan dasar yang terlihat merata/teratur
    • Nimbo Stratus (Ns)
      • Ciri dari awan ini adalah; bentuknya tidak menentu dengan pinggiran nya terlihat compang – camping.
      • Di Indonesia awan seperti ini menimbulkan hujan dan thunderstorm.
      • Warna awan ini adalah abu-abu atau putih agak gelap dengan penyebaran yang cukup luas.
  4. Awan Konveksi.
    Konveksi adalah pergerakan molekul-molekul pada fluida (yaitu cairan atau gas) dan rheid. Konveksi merupakan salah satu cara perpindahan panas dan massa utama. perpindahan panas dan massa terjadi melalui difusi dan adveksi.
    Jadi awan konveksi adalah awan yang terjadi akibat ada massa udara yang di paksa naik pada lapisan atmosfer yang tidak stabil (Unstable)
    Awan jenis ini adalah termasuk awan rendah yang dimana awan ini mempunyai kelebihan yaitu potensi curah hujan yang tinggi, petir (lightning) dan guntur (thunderstorm), adapun awan ini adalah,sbb:

    • Cumulus (Cu)
      Ciri dari awan ini adalah: terlihat tebal seperti bunga kol dan berwarna putih dan mempunyai tinggi puncak mencapai tinggi awan menengah dengan dasar yang terlihat merata.
    • Cumulonimbus (Cb)
      Adapun ciri dari awan ini adalah berwarna abu-abu hingga berrna hitam pekat dengan struktur awan ini terlihat tinggi dengan tinggi puncak mencapai wilayah awan tinggi. Awan ini menghasilkan hujan yang dengan intensitas tinggi dengan disertai petir atau terkadang menghasilkan puting beliung dengan potensi angin kencang (Gusty).

Presipitasi (Endapan)

Presipitasi merupakan peristiwa jatuhnya suatu endapan yang dapat berbentuk cair atau beku dari atmosfer ke permukaan bumi.

  1. Presipitasi cair dapat berupa hujan dan embun
  2. Presipitasi beku dapat berupa salju dan hujan es.

Semua bentuk hasil kondensasi uap air yang terkandung di atmosfer.

—Kondensasi

Ketika uap air mengembang, mendingin dan kemudian berkondensasi, biasanya pada partikel-partikel debu kecil di udara. Ketika kondensasi terjadi uap air dapat berubah menjadi cair kembali atau langsung berubah menjadi padat (es, salju, hujan batu (hail)). Partikel-partikel air ini kemudian berkumpul dan membentuk awan.

Proses terjadinya kondensasi :

Penguapan air dari badan air permukaan maupun vegetasi akibat sinar matahari atau suhu yang tinggi.

—Pergerakan uap air di atmosfer akibat perbedaan tekanan uap air.

Uap air bergerak dari tekanan uap air besar ke kecil.

—Pada ketinggian tertentu uap air akan mengalami penjenuhan, jika diikuti dengan kondensasi maka uap air akan berubah menjadi butiran-butiran hujan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya presipitasi diantara lain berupa :

  • Adanya uap air di atmosfer
  • Faktor-faktor meteorologis
  • Lokasi daerah
  • Adanya rintangan misal adanya gunung.

Udara di atmosfer akan mengalami proses pendinginan melalui beberapa cara umumnya adalah akibat pertemuan antara dua massa udara dengan suhu yang berbeda atau oleh sentuhan udara dengan obyek dingin.

Awan merupakan indikasi awal terjadinya presipitasi tetapi awan tidak otomatis menandakan akan adanya hujan.

Mekanisme berlangsungnya hujan melibatkan tiga faktor utama :

— Kenaikan massa uap air ke tempat yang lebih tinggi sampai saatnya atmosfer menjadi jenuh.

— Terjadinya kondensasi atas partikel-partikel uap air di atmosfer.

— Partikel uap air tersebut bertambah besar sejalan dengan waktu, selanjutnya jatuh ke bumi dan permukaan laut (sebagai hujan) karena faktor gravitasi.

Tolong tinggalkan jejak biar bisa saling tukar informasi.... THANKS A LOT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s