PUTING BELIUNG

Tornado adalah angin kencang yang berputar dengan kecepatan lebih dari 60-90 km/jam yang berlangsung 5-30 menit akibat adanya perbedaan tekanan yang sangat besar dalam area skala yang sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan cumulunimbus (Cb)

Angin puting beliung berasal dari jenis awan bersel tunggal dan berlapis-lapis (awan Cb) dekat dengan permukaan bumi, dimana jenis awan ini biasanya berbentuk bunga kol dan pertumbuhannya menjulang vertikal sampai pada ketinggian lebih dari 30.000 ft, dan bisa juga berasal dari multi sel awan, dengan luasan area horizontalnya sekitar 0-5 Km

Angin puting beliung kejadiannya singkat antara 3-5 menit setelah itu diikuti angin kencang yang berangsur-angsur kecepatannya melemah.

Angin puting beliung biasanya mempunyai kecepatan dapat mencapai 40-50 Km/jam atau lebih dengan durasi yang sangat singkat dan tidak sama dengan fenomena badai yang sering melanda di negara Amerika, Australia, Filipina, Jepang, Korea maupun China. Jadi wajar kalau peristiwa ini hanya bersifat lokal dan tidak merata, sedangkan angin kencang dapat berlangsung lebih dari 30 menit bahkan bisa lebih dari satu hari dengan kecepatan rata-rata 20-30 knot.

Puting beliung ini biasanya terjadi pada saat musim peralihan atau pada saat cuaca hujan atau di musim hujan yang hujannya masih banyak terjadi pada siang hari atau malam hari, karena memang fenomena nya selalu terjadi setelah lepas pukul 13.00 – 17.00 waktu setempat, namun demikian tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada malam hari.

Gejala Awal Terjadinya Puting Beliung adalah;

  1. Udara terasa panas dan gerah
  2. Di langit tampak ada pertumbuhan awan Cumulus (Cu)-(awan putih yang bergerombol yang berlapis-lapis)
  3. Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang yang secara visual seperti bunga kol.
  4. Awan tiba2 berubah warna dari warna putih menjadi warna hitam pekat (awan Cb)
  5. Ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin disertai angin kencang sedah menjulang.
  6. Durasi fase pembentukan awan hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam, oleh karena itulah masyarakat agar tetap waspada selama periode ini.

ProsesTerjadinya Puting Beliung

proses_cumulonimbus

Proses terjadinya puting beliung sangat terkait erat dengan fase tumbuh nya awan Cb yaitu seperti dijelaskan dibawah ini:

  • Fase Tumbuh
fase tumbuh
fase tumbuh

Dalam awan terdiri dari arus naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air maupun kristal-kristal es, masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan.

  • Fase Dewasa
fase dewasa masak
fase dewasa masak

Titik-titik air tidak tertahan lagi oleh udara naik ke puncak awan. Hujan turun menimbulkan gaya gesek     antara arus udara naik dan turun. Temperatur massa udara yang turun lebih dingin dari udara sekelilingnya. Antara arus udara yang naik dan turun dapat menimbulkan arus geser memutar, dan membentuk pusaran. Arus udara ini memutar semakin cepat, irip seperti sebuah siklon yang “menjilat”  bumi sebagai angin puting beliung. Terkadang disertai hujan deras yang membentuk pancaran air (water spout).

  • Fase Punah

fase-punah

Tidak ada massa udara naik, massa udara yang turun meluas diseluruh awan. Kondensasi berhenti, udara yang turun melemah hingga berakhirlah pertumbuhan awan Cumulunimbus (Cb).

Karakteristik puting beliung

  • Puting beliung merupakan dampak dari awan Cumulonimbus yang biasa tumbuh selama periode musim hujan, tetapi tidak semua pertumbuhan awan Cumulonimbus akan menimbulkan angin puting beliung
  • Kehadirannya belum dapat diprediksi
  • Terjadi secara tiba-tiba (2-5 menit) pada area skala yang sangat lokal
  • Pusaran puting beliung mirip belalai gajah/selang vacuum cleaner
  • Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur kerusakan
  • Lebih sering terjadi pada siang hari dan lebih banyak di daerah dataran rendah

Mitigasi Bencana Puting Beliung

1. Sebelum bencana:

  • Perlu dilakukan sosialisasi mengenai puting beliung agar masyarakat memahami dan mengenal puting beliung, baik definisi, gejala awal, karakteristik, bahaya, dan mitigasinya
  • Menyusun peta rawan bencana puting beliung berdasarkan data historis
  • Memangkas ranting pohon besar dan menebang pohon yang sudah rapuh serta tidak membiasakan memarkir kendaraan di bawah pohon besar
  • Jika tidak penting sekali, hindari bepergian apabila langit tampak awan gelap dan menggantung
  • Mengembangkan sikap sadar informasi cuaca dengan selalu mengikuti informasi prakiraan cuaca atau proaktif menanyakan kondisi cuaca kepada instansi yang berwenang
  • Penyiapan lokasi yang aman untuk tempat pengungsian sementara

2. Saat bencana:

  • Segera berlindung pada bangunan yang kokoh dan aman begitu angin kencang menerjang
  • Jika memungkinkan segeralah menjauh dari lokasi kejadian karena proses terjadinya puting beliung berlangsung sangat cepat
  • Jika saat terjadi puting beliung kita berada di dalam rumah semi permanen/rumah kayu, hingga bangunan bergoyang, segeralah keluar rumah untuk mencari perlindungan di tempat lain karena bisa jadi rumah tersebut akan roboh
  • Hindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, papan reklame dan jalur kabel listrik
  • Ancaman puting beliung biasanya berlangsung 5-10 menit, sehingga jangan terburu-buru keluar dari tempat perlindungan yang aman jika angin kencang belum benar-benar reda

3. Setelah bencana:

  • Melakukan koordinasi dengan berbagai pelaksana lapangan dalam pencarian dan pertolongan para korban
  • Mendirikan posko dan evakuasi korban yang selamat
  • Mendirikan tempat penampungan korban bencana secara darurat di dekat lokasi bencana atau menggunakan rumah penduduk untuk pengobatan dan dapur umum
  • Melakukan koordinasi bahan bantuan agar terdistribusi tepat sasaran dan sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan menghindari para oknum yang memanfaatkan situasi
  • Melakukan evaluasi pelaksanaan pertolongan dan estimasi kerugian material

Source:

  1. Wikipedia

PENGERTIAN METEOROLOGI

Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari atmosfer bumi khususnya untuk keperluan prakiraan cuaca.

Cuaca adalah keadaan / fenomena fisik dari atmosfer (yang berhubungan dengan Suhu, Tekanan Udara, Angin, Awan, Kelembaban udara, Radiasi, Jarak Pandang/Visibility, dsb) di suatu tempat dan pada waktu tertentu. Contoh : Pengamatan cuaca dilakukan setiap hari.

Iklim adalah aspek dari cuaca di suatu tempat dan pada waktu tertentu dalam jangka panjang. Contoh : Evaluasi dan Prakiraan Hujan Bulanan, Prakiraan Musim Hujan dan Kemarau.

Anomali adalah Penyimpangan nilai kuantitas suatu elemen meteorology dalam suatu wilayah dari nilai rata-rata (normal) untuk periode waktu yang sama.

Badai Tropis (Tropical Cyclone) adalah Pusaran angin pada system tekanan rendah yang mempunyai kecepatan angin lebih dari 34 knots di lautan luas.

Perbedaan antara Badai Tropis/Siklon/Typhoon/Hurricane dan Putting Beliung

Kriteria Siklon/Typhoon/Hurricane Puting Beliung
Daerah tumbuhnya Selalu di laut, diatas lintang 10° LU maupun LS Sering di darat, di laut namanya Water spout
Periode ulang Selatan Equator Indonesia: Desember – April

Utara Equator Indonesia : Mei – Nopember

Lebih sering di musim transisi, bias juga pada musim penghujan,

Tidak mempunayi siklus dan tidak ada angin putting beliung susulan

 

 

 

Arah gerakan Selalu menjauhi lintang Indonesia, dan  tidak mungkin melintasi kepulauan di Indonesia Tergantung arah gerakan awan Cumulunimbus (Cb).
Proses terjadinya Perbedaan tekanan dalam skala yang luas Hanya dari awan Cb bukan dari pergerakan awan Cb
Deteksi 3 hari sebelumnya Terdeksi 0.5 – 1 jam sebelumnya
Waktu terjadinya Tidak tentu, bias siang, malam maupun pagi hari Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, malam hari sangat jarang
Kecepatan Angin Minimum 35 knots (63 Km/jam), bisa lebih dari 90 knots 30 – 40 atau 50 knots, durasi sangat singkat
Lamanya 1 – 3 hari 3 menit, maksimum 5 menit
Sifat Kerusakan yang sangat hebat Hanya atap rumah dan tiang atau pohon yang tinggi, rimbun dan rapuh yang tumbang
Luas daerah yang rusak 200 km 5 – 10 km

 

Climate Change (Perubahan Iklim) adalah Perubahan signifikan jangka panjang dari pola cuaca rata-rata di suatu wilayah atau secara global dalam periode waktu yang signifikan.

Cold Surge adalah Aliran udra dingin dari daratan Asia yang menjalar memasuki wilayah Indonesia bagian barat, biasa terjadi pada saat di Asia memasuki musim dingin.

Cuaca Ekstrim adalah Keadaan atau fenomena fisis atmosfer di suatu tempat, pada waktu tertentu dan berskala jangka pendek dan bersifat ekstrim. BMKG mengkategorikan cuaca termasuk ekstrim apabila :

  • Suhu udara permukaan ≥ 35° C
  • Kecepatan angin ≥ 25 knots
  • Curah hujan dalam satu hari ≥ 50 mm

Cumulunimbus adalah jenis awan yang terlihat gelap (warna hitam pekat dan bergumpal berbentuk bunga kol).Akibat dari jenis awan ini menimbulkan hujan lebat, angin kencang dan petir/Guntur berdurasi singkat.

Dasarian adalah Rentang waktu 10 hari.

Dipole Mode adalah Fenomena interaksi laut – atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung dari perbedaan nilai (selisih) antara anomaly suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Pada saat Dipole Mode Indeks Positif , maka kandungan uap air di sekitar wilayah Sumatera sedikit sehingga curah hujan di wilayah tersebut cenderung berkurang. Jika Dipole Mode Indeks negatif , maka kandungan uap air di sekitar wilayah Sumatera akan banyak sehingga curah hujan di wilayah tersebut akan bertambah.

Divergensi adalah Angin dalam bentuk beraian horizontal, akan terlihat jalas pada lapisan 200 mb.

Downburst adalah Sentakan udara dingin dari awan Cb ke permukaan bumi dari kejadian thunderstorm atau shower. Meliputi area dengan diameter ≤ 4 km dalam durasi waktu singkat kurang dari 5 menit.

Eddy adalah Sirkulasi di atmosfer yang memiliki vortisitas dalam suatu area atau Puasaran angin dengan durasi harian dan biasanya jika suatu daerah terdapat eddy maka cenderung banyak hujan.

El Nino adalah Fenomena global dari system interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di equator pasifik timur (Nino 3) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Fenomena ini menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang.

 

La Nina adalah Kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di wilayah timur Equator di lautan pasifik, ditandai dengan anomaly suhu muka laut negative (lebih dingin dari rata-ratanya) di equator pasifik tengah (Nino 3 4). Fenomena ini menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia meningkat.

Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva / grafik sinusoidal. Gelombang laut disebabkan oleh angin.

Gusty adalah Fluktuasi kecepatan angin yang berubah signifikan secara tiba-tiba dalam durasi singkat biasanya dalam beberapa detik. Berasal dari awan Cb.Puncak angin harus mencapai sekurang-kurangnya 16 knots dan variasi antara puncak dan kecepatan terendah adalah sekurang-kurangnya 10 knots.

Hail (Hujan Es) adalah Bentuk presipitasi yang terdiri dari butiran es yang tidak teratur, berdiameter antara 5 – 150 mm. Hail terbentuk dalam awan badai (awan Cb) ketika butiran air super dingin membeku saat bertumbukan dengan inti kondensasi. Biasanya fenomena ini terjadi pada saat udara disekitarnya panas.

ITCZ adalah Sabuk tekanan rendah, merupakan daerah pertemuan massa udara antar benua dengan cakupan yang luas, biasanya berada antara 10° LU – 10° LS dekat equator. Pada daerah-daerah yang dilintasi ITCZ pada umumnya berpotensi terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan lebat.

Konveksi adalah Proses pemanasan vertical yang membawa uap air pada siang hari sehingga dapat membantu pembentukanawan tebal menjulang tinggi, biasanya terjadi hujan tiba-tiba, petir dan angin kencang.

Konvergensi adalah Gerakan angin dalam bentuk arus masuk horizontal ke suatu daerah atau mengumpulnya massa udara di suatu daerah yang membantu untuk pembentukan awan tebal. Konvergensi jg merupakan penurunan kecepatan angin.

Madden Julian Oscillation (MJO) adalah fluktuasi musiman atau gelombang atmosfer yang terjadi di kawasan tropic. MJO berkaitan dengan variable cuaca penting di permukaan maupun lautan pada lapisan atas dan bawah. MJO mempunyai siklus sekitar 30 – 60 harian. MJO dalam pengertian awam bisa didefinisikan dengan istilah penambahan gugusan uap air yang menyuplai dalam pembentukan awan hujan.

Monsoon adalah suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik pada suatu periode (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal dengan 2 istilah monsoon, yaitu monsoon Asia dan Monsun Australia.

Musim Hujan adalah musim yang ditandai dengan curah hujan yang terjadi dalam satu dasarian sebesar 50 mm atau lebih yang diikuti oleh dasarian berikiutnya atau dalam satu bulan terjadi lebih dari 150 mm.

Musim Kemarau adalah musim yang ditandai dengan curah hujan yang terjadi dalam satu dasarian kurang dari 50 mm dan dalam satu bulan kurang dari 150 mm.

Musim Pancaroba adalah Musim dengan pola hujan lebih sering turun pada siang hari atau malam hari dan dapat terjadi selaama 2 – 5 hari berturut-turut, intensitas hujan ringan sampai sedang, juga disertai dengan angin kencang dan petir, angin bertiup dari arah selatan sampai tenggara.

Awal musim Pancaroba ditandai dengan hujan yang terjadi mempunyai pola tidak menentu, terkadang turun pada malam, siang atau pagi hari dan tidak kontinu, intensitas hujan ringan sampai sedang terkadang diiringi dengan petir, angin bertiup dari arah tenggara/timur, frekuensi turunnya hujan tidak terlalu sering dan sinaran matahari masih banyak.

Pasang naik dan Pasang surut merupakan bentuk gerakan air laut yang terjadi karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Pasang Purnama adalah peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut tertinggi.

Rob adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang masuk ke darat akibat air pasang berkaitan dengan gaya tarik bumi, bulan dan matahari.

Shower adalah hujan tiba-tiba yang turun dari awan gelap pekat. Biasanya daerah di sekitarnya terlihat cerah dan umumnya waktunya tidak lama hanya dalam hitungan menit.

Skala Beaufort adalah skla yang digunakan dengan memperhatikan kondisi alam sekitarnya seperti melihat gerakan pepohonan.

Squall / Angin ribut adalah Sentakan angin kuat tiba-tiba dengan kecepatan meningkat sekurang-kurangnya 16 knots dan diteruskan sampai 22 knot atau lebih dalam waktu paling tidak 1 menit. Intensitasnya dan durasinya lebih lama daripada gusty.

Tornado adalah kolom udara yang berputar kencang yang membentuk hubungan antara awan Cumulunimbus dengan permukaan tanah.

Turbulensi adalah gerakan udara yang tidak teratur dan seketika yang dihasilkan dari sejumlah eddy kecil yang menjalar di udara. Hal ini disebabkan fluktuasi aliran angin yang acak, konvektif, zona font, variasi temperature dan tekanan.

Wind Shear adalah perubahan rata-rata arah dan kecepatan angin terhadap jarak. Wind shear merupakan fenomena meteorology skala mikro yang terjadi pada jarak yang sangat kecil namun dapat diasosiakan dengan skala sinoptik seperti squall line dan front dingin.

Shear Line adalah sebuah garis atau zona lintasan yang terdapat atau terjadi perubahan mendadak tiba-tiba pada komponen sejajar angin horizontal.

Source:

BMKG

WMO

 

SIKLON TROPIS

badai katerina
Badai Katerina

Dalam meteorologi, siklon tropis adalah sebuah jenis sistem tekanan udara rendah yang terbentuk secara umum di daerah tropis. Sementara angin sejenisnya bisa bersifat destruktif tinggi, jadi secara rinci siklon tropis adalah bagian penting dari sistem sirkulasi atmosfer, yang memindahkan panas dari daerah khatulistiwa menuju garis lintang yang lebih tinggi.

Daerah pertumbuhan siklon tropis paling subur di dunia adalah SAMUDERA HINDIA dan PERAIRAN BARAT AUSTRALIA. Sebagaimana dijelaskan oleh BoM (Bureau of Meteorology), bahwa pertumbuhan siklon di kawasan tersebut mencapai rerata 10 (sepuluh) kali per tahun. Siklon tropis selain menghancurkan daerah yang dilewati, juga menyebabkan banjir.

Berdasarkan struktur siklon tropis adalah daerah aktivitas awan konvektif, angin dan badai petir yang berkisar tinggi. Sumber energi inti sebuah siklon tropis adalah pelepasan panas kondensasi dari uap air yang berkondensasi pada ketinggian.

Bagian tengah badai siklon tropis yang disebut mata merupakan lingkaran berdiameter antara 10 hingga 100 kilometer, paling sering dilaporkan sekitar 40 meter. Kecepatan angin bagian ini lebih rendah bahkan berlangit cerah. Mata dikelilingi dinding awan padat setinggi 16 kilometer dengan angin dan hujan yang hebat.

Klasifikasi siklon tropis dapat di kelompok kan menjadi 3 (tiga) kelompok utama,yaitu:

  1. Depresi tropis (Tropical Depression)
    Depresi tropis adalah sistem tergantung awan konvektif dan badai petir dengan sirkulasi dan angin permukaan maksimum dengan rata-rata kecepatan angin permukaan kurang dari 17 m/s atau 33 knot, 38 m/jam atau bahkan sampai 62 km/jam. Depresi tropis tidak mempunyai mata dan tidak khas dengan berpilin dari badai-badai yang lebih kuat, misal nya seperti tornado, namun pada kelompok ini terjadi dari sistem tekanan rendah dan oleh karena nya,namanya adalah “depresi“.
  2. Badai tropis (Tropical Storm)
    Badai tropis adalah sistem yang tergantung dari badai petir yang kuat dengan sirkulasi dan angin permukaan yang terus terjadi dengan kecepatan diantara 17 dan 33 m/s (34-63 knot, 39-73 m/jam, sampai 63-117 km/jam). Pada waktu siklon jenis ini terbentuk biasanya matanya tak muncul.
  3. Dan pada jenis yang ketiga ini namanya tergantung pada daerah masing-masing.
    Pada jenis yang ketiga ini istilah yang dipakai untuk mendiskripsikan siklon tropis dengan kecepatan angin yang terus terjadi yaitu maksimum 33 m/s (63 knot, 73 m/jam sampai 117 km/jam).
    Siklon tropis seperti ini bervariasi daerah asalnya, misalnya:

    • Huricane di Samudera Atlantik Utara, Samudera Pasifik sebelah timur dan Samudera Pasifik Selatan sebelah timur (116°BT)
    • Taifun di Samudera Pasifik Barat Daya sebelah barat
    • Siklon tropis

Tanda-tanda kelahiran suatu badai tropis bisa diperkirakan. Keberadaan dan pergerakannya pun bisa diamati dengan teknologi. Hanya kadang-kadang, tanda-tanda badai bisa diamati, dirasakan dan dibandingkan.

Beberapa kejadian siklon tropis atau badai didunia;

  • Badai Fiona: Tanggal 6 Februari 2003 badai siklon tropis Fiona berada di 300 mil lepas pantai selatan Jawa. Diperkirakan angin di pusat badai berkecepatan 104 mil per jam dan ekor badai mencapai 84 mil per jam.
  • Siklon Ivy tanggal 27 Februari 2004, dengan terbentuknya pusat tekanan rendah yang memusat dan memutar. Hal ini terjadi di Samudra Pasifik di sebelah tenggara Papua dan di Samudra Hindia dekat Australia. Siklon di Samudra Pasifik ini dinamakan Tropical Cyclone Ivy dan di sebelah Barat Australia dinamakan Tropical Cyclone Monty. Pengaruh Siklon Ivy saat itu lebih dominan, ia menarik awan-awan yang ada di Indonesia ke arah pusat siklon (sebelah tenggara Papua). Akibatnya sebagian besar wilayah Indonesia berpeluang cerah hingga berawan sejenak setelah sebelumnya dilanda hujan berhari-hari. Hanya wilayah Papua yang berpeluang kuat hujan lebat karena lebih dekat dengan pusat siklon Ivy.
  • Badai siklon tropis Fay di laut Timor tanggal 17 Maret 2004 pukul 9:30 waktu setempat, bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan gerak 6 kilometer per jam. Publikasi semacam ini terus diperbaharui dan diwartakan badan meteorologi Indonesia dan Australia sebagai peringatan awal pada penduduknya. Harian KOMPAS pada hari yang sama memperingatkan adanya gelombang 1,5 hingga 2,5 meter di Samudra Hindia yang berbahaya bagi kapal-kapal nelayan, tongkang dan feri.
  • Ancaman badai yang menimpa Yogyakarta baru-baru ini. Badai ini mengancam kawasan pantai selatan Yogyakarta, antara tanggal 9 Februari sampai 11 Februari 2005. Pemprov menyediakan 5 unit alarm dan posko-posko sebagai antisipasi dari badai yang akhirnya tidak kunjung datang ini. Siklon tropis di Selatan Indonesia ini, selalu muncul setiap tahun pada Januari-Maret. Penyebabnya adalah tingginya suhu muka laut di timur laut Australia. Wilayah Indonesia tak dilalui pusat badai tropis, hanya terkena imbas dari ekor badai tersebut. Imbasnya berupa angin kencang, hujan deras, dan tingginya gelombang laut. Pemunculan siklon diawali pusat tekanan rendah di barat laut Australia dan bergerak menuju barat daya. Efek yang biasa diterima pantai selatan Indonesia biasaya pengaruh dari ekor siklon, bukan akibat pusat badai tropis.

Source:

UNSUR-UNSUR CUACA DAN IKLIM

PENGERTIAN CUACA DAN IKLIM

Cuaca adalah kondisi atmosfer yang berlangsung dalam waktu yang singkat dengan kurun waktu yang sempit, sedangkan Iklim adalah keadaan atmosfer yang berlangsung dalam waktu yang lama dan dalam cakupan wilayah yang luas.. Perbedaan iklim di bumi disebabkan oleh adanya pengaruh rotasi dan revolusi bumi serta perbedaan letak lintang. Berdasarkan definisi tersebut, antara cuaca dan iklim hanya berbeda dalam hal waktu dan wilayah cakupan. Karena cuaca dan iklim merupakan fenomena atmosfer, maka tidak ada perbedaan antara unsur-unsur dari cuaca dan iklim itu tersebut.

UNSUR-UNSUR CUACA DAN IKLIM

Apa sih unsur cuaca dan iklim itu sendiri?
“Suatu parameter yang dapat diukur, bisa berubah-ubah dan yang berperan langsung dalam proses kejadian cuaca atau iklim itu sendiri”

Unsur-unsur cuaca dan iklim meliputi:

  • Suhu Udara.
    Matahari adalah sumber panas utama bagi bumi dan atmosfernya. Namun, panas matahari yang sampai ke permukaan bumi berbeda-beda di setiap tempat. Hal ini menyebabkan suhu udara di setiap tempat berbeda-beda pula.
    Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan suhu udara, antara lain sebagai berikut:

    • Sudut Datang Sinar Matahari
      Kita tentu sudah mengetahui bahwa bumi itu berbentuk bulat. Dalam bentuk yang demikian sudut datang sinar matahari ke setiap daerah di bumi tidak sama karena terkait dengan letak lintang suatu wilayah. Sudut datang sinar matahari di wilayah yang berbeda di lintang rendah lebih besar daripada di wilayah yang berada di lintang tinggi. Oleh karena itu, di daerah khatulistiwa suhunya lebih tinggi daripada di daerah subtropis dan kutub. Sudut datang sinar matahari adalah sudut yang dibentuk oleh arah datangnya sinar matahari pada permukaan bumi.
      Berdasarkan hasil pengamatan, fluktuasi suhu tahunan berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lain. Karena suhu udara berkaitan dengan lintang bumi, fluktuasi suhu udara di permukaan bumi dapat dibedakan menjadi tiga pola sebagai berikut:
    • Pola Khatulistiwa
      Fluktuasi temperatur tahunan di daerah khatulistiwa itu kecil, lebih kecil daripada fluktuasi temperatur harian. Pola khatulstiwa mempunyai dua maksimum dan dua minimum, yaitu poda saat matahari berada di atas suatu daerah dan pada saat berada di garis balik.
    • Pola Daerah Sedang
      Fluktuasi temperatur tahunan di daerah ini besar, lebih besar daripada fluktuasi temperatur harian. Fluktuasi temperatur ini akan lebih besar jika suatu daerah terletak di tengah benua dan akan lebih kecil jika berdekatan dengan laut. Dalam pola ini ada satu maksimum dan satu minimum.
    • Pola Daerah Kutub
      Fluktuasi temperatur tahunan di wilayah kutub sangat besar. Pola ini hanya mempunyai satu maksimum dan satu minimum.
    • Lama Penyinaran Matahari
      Lamanya penyinaran matahari di khatulistiwa sebenarnya diukur selama 12 jam sejak matahari terbit hingga terbenam. Namun, dengan adanya faktor penghalang misalnya pohon dan bangunan tinggi, pengukuran tersebut sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, di Indonesia lamanya penyinaran matahari diukur selama 8 jam mulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00.
      Lamanya penyinaran matahari biasanya dinyatakan dalam satuan jam dan persen (%). Dengan demikian lamanya penyinaran matahari = 100% jika matahari menyinari suatu daerah selama 8 jam dan berarti di daerah tersebut langit cerah atau tidak tertutup awan.
      Lamanya penyinaran matahari diukur dengan menggunakan alat Campbell Stokes/Heliograf. Campbell Stokes/Heliograf dipasang dengan ketinggian 125 cm di atas permukaan tanah. Campbell Stokes/Heliograf terdiri atas bola gekas padat dengan diameter 4 inchi (10,1 cm) yang dipasang di dalam bidang lengkung. Dengan demikian sinar matahari dapat dikumpulkan pada satu titik. Sinar itu akan membakar kertas pias yang dipasang pada alat tersebut sehingga membentuk tanda yang menunjukkan lamanya penyinaran matahari.
    • Ketinggian Tempat
      Kita tentu pernah merasakan perbedaan suhu udara di daerah dataran rendah dengan daerah dataran tinggi atau pegunungan. Suhu udara di daerah dataran rendah lebih tinggi daripada di daerah dataran tinggi atau pegunungan. Keadaan tersebut sesuai dengan karakteristik atmosfer, terutama pada lapisan troposfer, yaitu setiap kenaikan 100 meter suhu udaranya turun 0,5 °C.

      • Kejernihan Atmosfer

      Kejernihan atmosfer mempengaruhi besarnya panas matahari yang sampai ke permukaan bumi. Hal ini disebabkan gas-gas di dalam atmosfer berpengaruh terhadap pemantulan dan penghamburan sinar matahari. Di daerah yang atmosfernya kotor hanya menerima panas secara langsung dalam jumlah sedikit, sedangkan di daerah yang tidak berawan akan menerima panas secara langsung dalam jumlah yang banyak.

    • Jarak Ke Laut
      Suatu tempat yang dekat dengan laut atau danau suhu udara rata-rata hariannya tinggi, sedangkan tempat yang jauh dengan laut atau danau suhu udara rata-rata hariannya rendah keadaan tersebut dipengaruhi oleh sifat air dan tanah (daratan) dalam menerima panas. Air lebih lambat menerima dan melepaskan panas, sedangkan daratan lebih cepat dalam menerima dan melepaskan panas.
      Pengukuran suhu udara pada saat tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan termometer, sedangkan suhu rata-rata harian diukur selama satu hari (siang dan malam) dengan thermometer/termograf. Jasil pencatatannya disebut termogram.
  • Tekanan Udara
    Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara setiap satuan luas bidang datar dari permukaan bumi sampai batas atmosfer. Makin tingi suatu tempat makin rendah tingkat kerapatan udaranya. Oleh karena itu, tekanan udara makin ke atas makin rendah.
    Sebaran tekanan udara suatu daerah dapat digambarkan dalam tampilan peta yang ditunjukan oleh garis isobar. Isobar adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara yang sama pada saat yang sama pula.
  • Angin
    • Arah AnginAngin adalah udara yang bergerak karena adanya perbedaan tekanan udara antara satu tempat dengan tempat yang lain. Adapun penyebab perbedaan tekanan udara adalah intensitas panas matahari. Udara yng terkena panas matahari akan mengambang sehingga tekanan udara menjadi rendah, sedangkan daerah yang tidak mendapat sinar matahari tekanan udaranya tinggi. Oleh karena itu, udara bergerak dari daerah yang bertekanan udara tinggi menuju daerah yang bertekanan udara rendah.
      Di permukaan bumi daerah yang mempunyai tekanan udara rendah adalah di daerah khatulitiwa karena selalu mendapatkan sinar matahari. Adapun di daerah kutub utara dan kutub selatan tekanan udaranya lebih tinggi. Oleh karena itu, aliran udara bergerak dari daerah kutub menuju khatulistiwa. Hubungan antara tekanan udara dengan arah angin dinyatakan dalam Hukum Boys Ballot “Bahwa udara mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah”.
      Arah angin akan membelok ke kanan di Belahan Bumi Utara (BBU) dan membelok ke kiri di Belahan Bumi Selatan (BBS).

      • Kecepatan Angin
        Besar kecilnya kecepatan angin ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

        • Besar kecilnya gaya gradien barometrik.
          Gaya gradien barometrik adalah besarnya perbedaan tekanan udara antara 2 isobar yang berjarak 11 km dan dinyatakan dalam milibar (mb). Makin besar perbedaan tekanan udara tersebut, maka akan makin cepat angin itu bergerak.
        • Banyak sedikitnya hambatan.
          Faktor yang dapat menjadi hambatan gerakan angin antara lain relief permukaan bumi, gedung-gedung (bangunan), dan pohon-pohon. Makin banyak rintangan yang menghalangi laju gerakan angin, makin lambat gerakan angin tersebut.
        • Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin adalan anemometer. Ada beberapa jenis anemometer, salah satu jenis adalah anemometer mangkok. Pada anemometer terdapat peralatan elektronik yang berfungsi mencatat gerakan angin. Pembacaan alat itu harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu, misalnya harian.
        • Jenis-Jenis Angin
          Tekanan udara berbeda-beda antar tempat dan pada tempat tertentu dapat berubah secara dinamis. Perbedaan tekanan udara itu menyebabkan terjadinya angin. Oleh karena itu, angin sangat beragam bergantung tempatnya. Angin selalu diberi nama sesuai dengan arah asalnnya. Ragam angin di bumi antara lain sebagai berikut:
      • Angin Barat
        Angin barat bertiup dari lintang 35° LU/LS menuju 60° LU/LS. Karena pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), angin barat mengalami pembelokan arah. Di belahan bumi utara angin itu menjadi angin barat daya, sedangkan di belahan bumi selatan menjadi angin barat laut.
      • Angin Kutub
        Angin kutub berhembus dari daerah bertekanan tinggi di sekitar kutub ke arah daerah sedang. Di BBU, angin tersebut berhembus dari arah timur laut menjadi angin timur laut, sedangkan di BBS angin tersebut berembus dari arah arah tenggara menjadi angin tenggara.
      • Angin Pasat
        Angin pasat berhembus dari daerah sub tropik (30° LU/LS) menuju daerah khatulistiwa. Angin itu terbentuk karena adanya ruang kosong di daerah khatulistiwa akibat pengembangan udara oleh sinar matahari. Ruang kosong itu kemudian diisi udara yang bertekanan tinggi dari daerah sub tropik. Karena pengaruh gaya coriolis, udara yang bergerak dari BBU dibelokkan ke kiri sehingga disebut angin pasat timur laut. Adapun udara yang bergerak dari arah BBS di belokkan ke kanan sehingga disebut angin pasat tenggara.
        Di Indonesia pada bulan Juli terjadi angin pasat tenggara dan pada bulan Januari terjadi angin pasat timur laut.
        Di daerah khatulistiwa, karena massa udara yang selalu tinggi akibat pengembangan udara, udara akan bergerak naik yang disebut angin anti pasat. Angin anti pasat kemudian turun sebagai angin kering di daerah lintang 25° LU/LS – 30° LU/LS. Keadaan itulah yang menyebabkan terbentuknya gurun-gurun di daerah subtropis.
      • Angin Siklon
        Angin siklon terjadi jika suatu daerah yang bertekanan rendah dikelilingi oleh suatu daerah yang bertekanan tinggi. Akibatnya,udara akan mengalir dari daerah bertekanan udara tinggi menuju daerah yang bertekanan udara rendah. Karena pengaruh gaya coriolis, arah angin mengalami pembelokan. Jika angin siklon berada di belahan bumi utara, arah angin berputar searah dengan putaran jarum jam. Jika angin siklon terjadi di belahan bumi selatan, arah perputarannya berlawanan dengan putaran jarum jam.
      • Angin Anti Siklon
        Angin anti siklon terjadi jika suatu daerah yang bertekanan udara tinggi dikelilingi oleh darah yang bertekanan udara rendah. Di permukaan bumi daerah anti siklon terutama berada di atas laut atau lautan pada lintang 30° LU/LS. Karena pengaruh gaya coriolis, putaran angi ati siklon di BBU searah dengan putaran jarum jam, sedangkan di BBS putaran angin anti siklon berlawanan dengan putaran jarum jam.
      • Angin Musim
        Angin musim merupakan suatu angin regional yang bertiup di daerah tropis. Angin musim itu terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok antara daratan dan lautan. Pada periode April – Oktober, saat matahari di belahan bumi utara, Benua Asia mengalami pemanasan maksimal. Akibatnya, Benua Asia mempunyai tekanan udara rendah. Adapun di belahan bumi selatan (Benua Australia) mempunyai tekanan udara yang lebi tinggi sehingga angin bertiup dari Benua Australia menuju Benua Asia dan disebut angin muson tenggara. Angin itu hanya membawa sedikit uap air sehinga pada periode itu di Indonesia mengalami musim kemarau.
        Pada periode Oktober – April, saat matahari berada di belahan bumi selatan, Benua Australia mengalami pemanasan maksimal. Akibatnya, Benua Australia mempunyai tekanan udara rendah. Adapun di belahan bumi utara (Benua Asia) mempunyai gtekanan udara yang lebih tinggi sehingga angin bertiup dari Benua Asia menuju Benua Autralia dan disebut angin muson timur.
        Karena bertiup melalui Samudera Hindia, angin ini banyak mengandung uap air sehingga pada periode tersebut di Indonesia mengalami musim hujan.
      • Angin Darat dan Angin Laut
        Angin darat dan angin laut terjadi akibat adanya perbedaan sifat pemanasan antara daratan dan lautan. Pada malam hari karena temperatur laut lebih tinggi daripada daratan, tekanan udara di laut lebih rendah daripada tekanan udara di darat. Oleh karena itu, terjadi pergerakan udara dari darat menuju ke laut yang disebut angin darat.
        Pada siang hari karena temperatur daratan lebih tinggi daripada lautan, tekanan udara di daratan lebih rendah daripada tekanan udara di lautan. Oleh karena itu, terjadi pergerakan udara dari laut menuju ke darat yang disebut angin laut.
      • Angin Lembah dan Angin Gunung
        Angin lembah dan angin gunung terjadi karena adanya perbedaan pemanasan di daerah pegunungan. Perbedaan pemanasan itu disebabkan oleh perbedaan luas lereng gunung dan lembah sehingga terdapat perbedaan jumlah panas yang diterima pada satu satuan waktu.
        Siang hari pemanasan lebih cepat terjadi pada lereng gunung sehingga temperaturnya lebih tinggi daripada di lembah. Oleh karena itu, tekanan udara di lereng gunung menjadi lebih rendah daripada di lembah sehingga terjadi pergerakan udara dari lembah menuju ke lereng gunung. Pergerakan udara itu disebut angin lembah.
        Malam hari terjadi keadaan sebaliknya, yaitu suhu udara di lereng gunung lebih rendah daripada di lembah sehingga tekanan udara di gunung lebih besar daripada di lembah. Oelh karena itu, terjadi pergerakan udara dari lereng dari gunung menuju lembah. Pergerakan udara itu disebut angin gunung.
      • Angin Fohn
        Angin fohn terjadi apabila ada gerakan massa udara yang menaiki suatu pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter. Massa udara yang sampai ke puncak gunung akan mengalami kondensasi dan akibatnya timbul hujan pada satu sisi lereng. Adapun pada lereng yang lain tidak menjadi hujan karena terhalang tingginya pegunungan.
        Daerah yang tidak mengalami hujan disebut daerah bayangan hujan.
        Pada daerah bayangan hujan itu angin dari atas pegunungan akan bergerak menuruni lereng pegunungan dengan kecepatan tinggi. Hal itu menyebabkan naiknya suhu udara karena setiap turun 100 meter udara naik 1° C. Dengan demikian angin yang turun bersifat panas dan kering. Angin itulah yang disebut angin lokal atau angin fohn atau angin terjun.
        Beberapa kejadian Angin Fohn yang terjadi di Indonesia antara lain sebagai berikut:

        • Angin Bohorok di Deli. Angin itu dapat merusak perkebunan tembakau.
        • Angin Kumbang di Tegal dan Cirebon, bagi daerah tersebut angin kumbang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman bawang karena di daerah sekitarnya menjadi tidak lembab.
        • Angin Gending di Pasuruan Purbolinggo, Jawa Timur.
        • Angin Berubu di Sulawesi Selatan.
        • Angin Wambraw di Biak, Papua.
  • Kelembaban Udara
    Kelembapan udara digunakan untuk menyatakan banyaknya kandungan uap air di dalam udara. Sebenarnya jumlah uap air di dalam udara hanya sekitar 2 % dari massa atmosfer. Akan tetapi, uap air merupakan komponen utama yang sangat penting dari segi cuaca dan iklim. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

    • Besarnya uap air merupakan potensi terjadinya hujan (presipitasi)
      Uap air mempunyai sifat meresap radiasi sehingga menentukan cepatnya kehilangan panas. Dengan demikian uap air ikut mengatur temperatur.
    • Makin besar uap air di dalam udara, makin besar jumlah energi potensial yang tersedia di dalam atmosfer dan merupakan sumber atau awal terjadinya hujan angin ((storm = badai).
    • Kandungan uap air di udara dapat dinyatakan delam dua cara, yaitu kelembapan relatif dan kelembapan absolut.
      1. Kelembaban Relatif
        Kelembapan relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung udara dan jumlah uap air maksimum (jenuh) di dalam udara pada temperatur dan tekanan udara yang sama. Kelembapan relatif dinyatakan dalam persen.
        Kelembapan relatif dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.RH=e/es x 100%
        Dimana:
        RH = kelembapan relatif (Relative Humidity)
        e = kandunga uap air yang ada
        es = Tingkat kejenuhan untuk menampung aiMisalnya di dalam udara 1 m³ pada suhu 24° C mengandung 6 gram uap air, sedangkan tingakat kejenuhan 8 gram uap air.
        Kelembapan relatifnya adalah: 6/8 x 100%=75%
      2. Kelembaban Mutlak
        Kelembapan mutlak adalah jumlah uap air per satuan volume udara dan dinyatakan dalam g/m³ udara. Kelembapan absolut tidak umum dipakai dalam perhitungan karena dapat berubah-ubah akibat perubahan suhu udara.
  • Perawanan (Cloudness)
    Awan terbentuk sebagai akibat adanya kondensasi, yaitu proses perubahan wujud dari uap air menjadi titik-titik air. Jadi, awan merupakan kumpulan titik-titik air atau kristal-kristal es yang melayang-layang di atmosfer. Titik-titk air atau kristal-kristal es itu bukanlah air murni, melainkan titik-titik air yang mengumpul di sekeliling kondensasi. Inti kondesasi berupa kristal-kristal garam yang berkumpul 0,1 – 1 mikron yang berasal dari deburan ombak pantai (surf), debu, serta asap pabrik dan kendaraan bermotor.
  • Curah Hujan (Rainfall)
    Curah hujan adalah partikel hydrometeor yang jatuh dari atmosfer yang sampai ke permukaan bumi dalam bentuk air, salju ataupun es
    Satuan yang dipakai untuk curah hujan adalah milimeter (mm)Curah Hujan 1 mm?

    Air hujan yang yang tertampung (tidak Menguap, Mengalir, dan Meresap) pada suatu wilayah dengan luasan 1 m² pada tempat yang datar dengan tinggi air 1 mm atau tertampung air sebanyak 1 liter”

    Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan adalah Penakar hujan manual tipe Observatorium dengan gelas ukur milimeter serta Penakar hujan otomatis tipe Hillman.

PEMBENTUKAN AWAN DAN PROSES TERJADINYA HUJAN

Siklus Hidrologi
Siklus Hidrologi
  1. AWAN
    Awan adalah sekumpulan tetes-tetes air atau kristal es yang berada dalam udara di atmosfer yang terjadi akibat pengembunan atau pemadatan uap air yang terdapat dalam udara setelah melampaui titik jenu. Sifat awan bisa berupa berupa cair, gas dan padat, karena dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

    • Awan dibagi atas 4 (empat) sesuai ketinggian;
      1. Awan Tinggi (High Cloud)
        Pada wilayah tropis, awan ini terletak pada ketinggian 6.000 m s/d 18.000 m, pada wilayah iklim sedang , awan ini terdapat di ketinggian 5.000 m s/d 13.000 m, sedangkan untuk wilayah kutub atau lintang tinggi awan ini berada di ketinggian 3.000 m s/d 8.000 m. Awan yang tergolong dalam jenis awan tinggi ini yang sesuai dengan kesepakatan meteorologi seluruh dunia adalah, sbb:

        • Awan Cirrus (Ci)
          Ciri-ciri awan Cirrus adalah:

          • Terlihat halus, dan berstruktur seperti serat , dan bentuknya mirip seperti bulu-bulu burung. Awan ini sering tersusun seperti pita yang melengkung di langit, sehingga terlihat seakan-akan tampak bertemu pada satu atau dua titik horizon.
          • Tidak menghasilkan hujan
          • Terdiri dari kristal-kristal es yang yang terjadi disebabkan oleh uap air yang naik pada level/tingkat yang mana suhu terlalu/kelewat dingin pada atmosfer.
          • Pinggiran awan ini terlihat tidak jelas dan berwarna putih.
        • Awan Cirro Stratus (Cs atau Ci-St)
          Ciri-ciri dari awan jenis ini adalah,sbb:

          • Bentuknya seperti kelambu putih yang halus dan terlihat rata menutupi seluruh langit sehingga tampak cerah, bisa juga terlihat seperti anyaman yang bentuknya tidak teratur.
          • Pada malam hari, menimbulkan Halo (lingkaran pada bulan yang bulat) yang mengelilingi bulan yang biasanya sering terjadi pada musim kemarau.
        • Awan Cirro Cumulus (Cc atau Ci-Cu)
          Ciri – ciri dari awan ini adalah,sbb:

          • Awan jenis ini terlihat seperti putus-putus dan penuh dengan kristal-kristal es sehingga bentuknya seperti sekelompok domba dan sering menimbulkan bayangan.
  2. Awan Menengah (Messo Cloud)
    Untuk wilayah tropis, awan ini terdapat pada ketinggian 2.000 m s/d 8.000 m, untuk wilayah iklim sedang awan ini berada pada ketinggian 2.000 m s/d 7.000 m, sedangkan untuk wilayah lintang tinggi/kutub awan ini berada pada ketinggian 2.000 m s/d 7.000 m.
    Yang termasuk dalam jenis awan menengah ini, antara lain:

    • Alto Cumulus (Ac)
      Ciri-ciri dari awan ini adalah, sbb:

      • Terlihat gumpalan-gumpalan kecil yang dalam jumlah banyak .
      • Berwarna abu-abu atau kelabu dan terkadang warna putih yang terlihat pada saat waktu senja
      • Bergerombol  dan sering berdekatan dan terkadang seperti bola yang agak tebal.
      • terlihat jelas tersisih antara satu sama lain dengan warna kelabu atau putih yang membedakan dengan Cirro Cumulus (Cc)
    • Alto Stratus (As)
      Ciri dari awan Alto Stratus adalah, sbb

      • Berwarna kekelabuan dan meliputi hampir secara keseluruhan langit.
      • Awan jenis ini menghasilkan hujan apabila dalam keadaan tebal dan awan jenis ini terbentuk pada waktu senja hingga malam hari dan menghilang apabila matahari terbit.
  3. Awan Rendah (Low Cloud)
    Awan jenis ini terdapat pada ketinggian kurang dari 2.000 m, hampir secara keseluruhan awan rendah menghasilkan presipitasi / endapan. Yang tergolong dalamm jenis awan ini adalah,sbb:

    • Strato Cumulus (Sc)
      Ciri dari awan ini adalah, sbb:

      • Berbentuk perca-perca atau lembaran-lembaran yang berwarna abu-abu atau keputih-putihan atau campuran dari warna-warna tersebut.
      • Awan jenis ini dan secara keseluruhan awan rendah menghasilkan hujan.
    • Stratus (St)
      Ciri-ciri dari awan ini adalah, sbb:

      • Lembaran-lembaran atau lapisan-lapisan dengan dasar yang terlihat merata/teratur
    • Nimbo Stratus (Ns)
      • Ciri dari awan ini adalah; bentuknya tidak menentu dengan pinggiran nya terlihat compang – camping.
      • Di Indonesia awan seperti ini menimbulkan hujan dan thunderstorm.
      • Warna awan ini adalah abu-abu atau putih agak gelap dengan penyebaran yang cukup luas.
  4. Awan Konveksi.
    Konveksi adalah pergerakan molekul-molekul pada fluida (yaitu cairan atau gas) dan rheid. Konveksi merupakan salah satu cara perpindahan panas dan massa utama. perpindahan panas dan massa terjadi melalui difusi dan adveksi.
    Jadi awan konveksi adalah awan yang terjadi akibat ada massa udara yang di paksa naik pada lapisan atmosfer yang tidak stabil (Unstable)
    Awan jenis ini adalah termasuk awan rendah yang dimana awan ini mempunyai kelebihan yaitu potensi curah hujan yang tinggi, petir (lightning) dan guntur (thunderstorm), adapun awan ini adalah,sbb:

    • Cumulus (Cu)
      Ciri dari awan ini adalah: terlihat tebal seperti bunga kol dan berwarna putih dan mempunyai tinggi puncak mencapai tinggi awan menengah dengan dasar yang terlihat merata.
    • Cumulonimbus (Cb)
      Adapun ciri dari awan ini adalah berwarna abu-abu hingga berrna hitam pekat dengan struktur awan ini terlihat tinggi dengan tinggi puncak mencapai wilayah awan tinggi. Awan ini menghasilkan hujan yang dengan intensitas tinggi dengan disertai petir atau terkadang menghasilkan puting beliung dengan potensi angin kencang (Gusty).

Presipitasi (Endapan)

Presipitasi merupakan peristiwa jatuhnya suatu endapan yang dapat berbentuk cair atau beku dari atmosfer ke permukaan bumi.

  1. Presipitasi cair dapat berupa hujan dan embun
  2. Presipitasi beku dapat berupa salju dan hujan es.

Semua bentuk hasil kondensasi uap air yang terkandung di atmosfer.

—Kondensasi

Ketika uap air mengembang, mendingin dan kemudian berkondensasi, biasanya pada partikel-partikel debu kecil di udara. Ketika kondensasi terjadi uap air dapat berubah menjadi cair kembali atau langsung berubah menjadi padat (es, salju, hujan batu (hail)). Partikel-partikel air ini kemudian berkumpul dan membentuk awan.

Proses terjadinya kondensasi :

Penguapan air dari badan air permukaan maupun vegetasi akibat sinar matahari atau suhu yang tinggi.

—Pergerakan uap air di atmosfer akibat perbedaan tekanan uap air.

Uap air bergerak dari tekanan uap air besar ke kecil.

—Pada ketinggian tertentu uap air akan mengalami penjenuhan, jika diikuti dengan kondensasi maka uap air akan berubah menjadi butiran-butiran hujan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya presipitasi diantara lain berupa :

  • Adanya uap air di atmosfer
  • Faktor-faktor meteorologis
  • Lokasi daerah
  • Adanya rintangan misal adanya gunung.

Udara di atmosfer akan mengalami proses pendinginan melalui beberapa cara umumnya adalah akibat pertemuan antara dua massa udara dengan suhu yang berbeda atau oleh sentuhan udara dengan obyek dingin.

Awan merupakan indikasi awal terjadinya presipitasi tetapi awan tidak otomatis menandakan akan adanya hujan.

Mekanisme berlangsungnya hujan melibatkan tiga faktor utama :

— Kenaikan massa uap air ke tempat yang lebih tinggi sampai saatnya atmosfer menjadi jenuh.

— Terjadinya kondensasi atas partikel-partikel uap air di atmosfer.

— Partikel uap air tersebut bertambah besar sejalan dengan waktu, selanjutnya jatuh ke bumi dan permukaan laut (sebagai hujan) karena faktor gravitasi.

Kondisi Dinamika Atmosfer

  • Kondisi Dinamika Atmosfer dan Laut.

Dinamika atmosfer dan laut dipantau dan diprakirakan berdasarkan 6 (enam) fenomena alam, yaitu 3 fenomena global dan 3 fenomena regional. Monitoring dan prakiraan kondisi dinamika atmosfer dan laut yang akan terjadi selama Musim hujan 2008/2009, adalah :

Monitoring dan Prakiraan Fenomena Global

  • El Nino dan La Nina
El Nino dan El Nina
El Nino dan La Nina

Hingga awal September 2008 suhu muka laut di ekuator Pasifik (wilayah nino 3.4) anomalinya berkisar 0.0 °C hingga -0.5 °C. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Juni 2008, hal ini mengindikasikan kondisi netral di wilayah tersebut.

Kondisi netral di ekuator Pasifik ini diprakirakan akan terus berlangsung hingga awal tahun 2009. Sehingga selama Musim Hujan 2008/2009 fenomena di Pasifik ekuator adalah netral.

Indeks osilasi selatan (SOI) diprakirakan nilainya antara +0.3 hingga +4.5, nilai ini masih dibawah ambang pengaruhnya (+10 dan -10) sehingga selama Musim Hujan 2008/2009, nilai SOI mengindikasikan kondisi normal.

  • Dipole Mode
Dipole Mode
Dipole Mode

Dipole Mode Indeks (DMI) selama Musim Hujan 2008/2009 diprakirakan akan berosilasi antara +0.4 hingga -0.1, nilai DMI ini secara umum masih berada dibawah nilai ambang pengaruhnya (+ 0.5 dan -0.5). Hal ini akan menyebabkan pergerakan uap air dari samudera Hindia tetap menuju ke wilayah Indonesia dengan intensitas normal.

  • Madden Julian Oscillation (MJO)
Madden Julllian Oscillation
Madden Julian Oscillation

Monitoring terhadap aktivitas MJO, terkait kondisi gerakan udara vertikal di wilayah Indonesia, pada awal Agustus 2008 menunjukkan intensitas lemah bernilai +0.8, yang berarti berada pada kondisi nilai normalnya (1.0), dan diprakirakan berlanjut hingga akhir Agustus 2008. Hal ini memberikan indikasi bahwa pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia masih dalam kondisi normal. B.

Monitoring dan Prakiraan Fenomena Regional

  • Sirkulasi Monsun Asia – Australia

Hingga awal September 2008 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normal. Gangguan-gangguan yang terjadi umumnya disebabkan terjadinya pola-pola tekanan rendah di sekitar Filipina dan Laut Cina Selatan, beberapa diantaranya mencapai skala siklon tropis seperti Kammuri dan Nuri yang terjadi pada bulan Agustus 2008. Timbulnya tekanan rendah ini memodifikasi pola sirkulasi monsun yang mengakibatkan terjadinya hujan lebat di beberapa wilayah Indonesia. Diprakirakan sel-sel tekanan rendah di sekitar Filipina dan Laut Cina Selatan ini masih akan terjadi hingga November 2008, sedangkan mulai Desember 2008 diprakirakan sel-sel tekanan rendah terjadi di wilayah selatan Indonesia. Sel-sel tekanan rendah di selatan Indonesia ini diprakirakan mengakibatkan hujan-hujan lebat khususnya di sekitar Lampung, Jawa, Bali, NTB dan NTT.

  • Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ)

Posisi ITCZ pada awal September 2008 masih disekitar Sulawesi Utara memanjang ke timur hingga Papua bagian utara dalam pergerakan tahunannya kearah selatan. Jika dibanding posisi rata-ratanya, posisi ITCZ ini masih dalam kisaran rata-ratanya, sehingga diprakirakan puncak hujan yang terjadi di setiap wilayah diprakirakan juga akan terjadi pada waktu sekitar rata-rata wilayah masing-masing.

  • Suhu Muka Laut di Wilayah Perairan Indonesia

Suhu muka laut di perairan sebelah barat Bengkulu-Lampung, selatan Jawa, Bali – NTB, NTT dan selatan Merauke mempunyai rentang perubahan yang cukup besar yaitu minimum berkisar 26.0 °C pada bulan Agustus hingga maksimum berkisar 31.5 °C pada bulan Februari  Maret. Wilayah perairan lainnya umumnya mempunyai rentang perubahan lebih kecil yaitu berkisar 29.0 °C hingga 31.5 °C, dengan waktu terjadinya minimum dan maksimum tidak sama di setiap perairan tersebut.

Suhu muka laut di Indonesia selama musim hujan 2008/2009 diprakirakan sebagai berikut :

1) September hingga Oktober 2008 :

Wilayah perairan Indonesia yang diprakirakan lebih dingin dari rata  ratanya, meliputi : perairan barat Lampung memanjang ke timur hingga selatan Jawa,Bali, NTB, NTT hingga perairan selatan Merauke, dengan anomali pada kisaran  0,5 °C hingga – 1,0 °C.

Wilayah perairan sekitar Sulawesi Utara, Maluku Utara serta Papua bagian utara diprakirakan akan lebih panas dari rata-ratanya dengan nilai anomali +0.5 °C.

Wilayah perairan lainnya diprakirakan normal hingga lebih panas 0,5 °C dari rata  ratanya.

2) November 2008 hingga Maret 2009 :

Suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia umumnya diprakirakan akan berada pada sekitar rata-ratanya, kecuali perairan sekitar NTT dan selatan Papua diprakirakan akan lebih panas dari rata-ratanya mulai bulan januari 2009 dengan nilai anomali 0,5 °C.

Source:

Semoga informasi ringan ini dapat menambahkan wawasan kita untuk dapat berbuat yang lebih baik bagi planet yang kita pijak…

AMIEN…

Salam Bumi

Author

Proses Terbentuknya Hujan

 

 Kelembaban Absolute adalah jumlah kandungan uap air didalam udara dibandingkan dengan udara kering.

Kelembaban spesifik adalah rasio uap air ke udara (termasuk uap air dan udara kering) dalam suatu massa tertentu.

Mixing Ratio: perbandingan antara massa uap air (mv) terhadap massa udara kering (md).

Virga adalah fenomena yang terjadi saat kristal es di awan jatuh, namun menguap sebelum menyentuh tanah. Virga muncul seperti ekor / jejak dari awan yang menggapai permukaan tanah, kadangkala membentuk awan seperti ubur-ubur. 

            Proses Pembentukan Hujan:

Terbentuknya Hujan sangat di pengaruhi oleh konveksi di atmosfer, bumi dan lautan.
Konveksi adalah : proses pemindahan panas oleh gerak masa suatu fluida dari satu daerah ke daerah yang Lain. Konveksi bebas dalam atmosfer turut memainkan peranan penting dalam menentukan cuaca sehari-hari,sedangkan konveksi di lautan merupakan mekanisme pemindahan panas Global yang penting.
Kedua konveksi diatas dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya” Hujan”.Uap air berasal lautan bersama-sama dengan udara, terangkat ke atas akibat adanya gaya angkat hingga mencapai 12km – 18km dan kemudian membentuk awan. Gumpalan awan berdiameter 5 km mengandung kurang lebih 5×10^8 kg Air. Ketika campuran uap air dan udara terkondensasi, maka terbentuklah hujan yang membebaskan sekitar 108 J energi ke atmosfer”(sebanding dengan energi listrik yang di gunakan 100.000 orang dalam satu bulan)”, Udara kemudian tertekan ke bawah bersama-sama dengan air sehingga membentuk curah hujan yang awalnya cukup besar. Curah hujan akan melemah seiring dengan berkurangnya energi yang di suplai oleh campuran uap air dan udara yang naik ke atas. 

Terminal velocity adalah keseimbangan gaya antara gaya gravitasi dengan friction nya.

Downburst adalah luas hujan-pada udara dingin secara signifikan, setelah mencapai permukaan tanah, menyebar ke segala arah memproduksi angin kencang.

Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan. Peluapan ini bisa terjadi dengan 2 (dua) cara:

  1. Apabila udara panas lebih banyak dari uap air yang terkandung didalam udara kering cepat sekali melejat. Udara panas yang sarat dengan uap air akan naik, hingg tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap air tersebut akan mencair dan terbentuklah awan yang terdiri dari molekul- molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.
  2. Suhu udara tidak berubah atau dengan kata lain stable tetapi keadaan atmosfer menjadi lembab dan kemudian udara makin lama makin menjadi semakin jenuh dengan uap air.
Apabila awan telah terbentuk maka titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan tersebut akan menjadi semakin berat dan perlahan-lahan daya tarik bumi atau gaya gravitasi bumi akan menariknya ke bawah, hingga sampai pada satu titik kejenuuhan dimana titik-titik air tersebut akan terus jatuh sebagai hujan.
Jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas maka titik-titik itu akan menguap dan awan menghilang. Inilah yang menyebabkan awan tersebut selalu berubah-ubah bentuknya.
Air yang terkandung didalam awan silih berganti menguap dan mencair dan ini juga yang menyebabkan adanya jenis-jenis awan yang tidak membawa hujan.

 

Sumber: @wikipedia…

 

Dapatkah Hujan Es Terjadi di Daerah Tropis???

Hail hanya akan terbentuk pada awan cumulonimbus (Cb) yang topnya melewati freezing level (ketinggian dimana suhu udaranya 0 derajat Celcius atau sekitar 16.000 kaki di wilayah Indonesia). Untuk terjadinya Cb kondisi udara (cuaca) harus mendukung dengan labilnya lapisan udara sehingga mudah terjadi proses konveksi ditambah harus ada suplai uap air yang cukup sehingga massa udara yang terangkat oleh proses konveksi mengandung uap air yang banyak dan akan mempermudah terbentuknya awan cumulus yang berkembang menjadi awan Cb.

Gambar 1 (a) dan (b)
Gambar 1 (a) dan (b)
  1. Penampang vertikal struktur awan dan echoe radar sebuah thunderstorm supercell di Colorado bagian timur laut. Penampang sejajar dengan arah gerakan awan, melalui pusat draft yang paling kuat. Reflektivitas radar ditunjukan dengan arsiran tebal dan tipis. C-130, QA, DC-6 dan B menunjukan lokasi empat pesawat yang dilengkapi instrument fisika awan. Panah tebal menunjukan vektor angin yang diukur dengan dua pesawat. Tanda panah yang pendek dan tipis mengitari pinggiran vault mengindikasikan lintasan hail. Garis tipis adalah streamlines aliran udara relatif terhadap awan, dan yang di sebelah kanan menunjukan profil komponen angin searah dengan gerakan badai.
  2. Bagian vertikal berhubungan dengan gambar (a). Lintasan 1, 2, dan 3 menunjukan tiga posisi pertumbuhan hail. Transisi dari 2 ke 3 berhubungan dengan masuknya kembali sebuah embryo hail ke dalam updraft paling kuat sebelum lintasan naik-turun yang terakhir dimana hail tumbuh besar, terutama bila hail berkembang dekat batas vault seperti yang ditunjukan oleh lintasan 3. Sementara yang kecil kemungkinannya menjadi hail akan tumbuh di lokasi yang lebih jauh dari vault dan mengikuti lintasan berbentuk titik. Butir awan yang tumbuh dalam pusat updraft akan terbawa ke atas dan keluar ke dalam anvil sepanjang lintasan bertanda o sebelum butir-butir tersebut mencapai ukuran presipitasi. (Diambil dari Houze, 1993),

Hujan berupa butiran es ini disebut hail, dan dapat terjadi di daerah tropis.

Pertumbuhan awan Cb bila disertai updraft yang kuat maka hail dapat terbentuk. Menurut Rogers (1979), updraft masuk pada level bawah dan naik ke zona yang disebut “vault” (berbentuk melengkung). Akibat kuatnya updraft di zona vault, butir air tidak mampu membesar sampai ukuran yang dapat dideteksi radar. Bila presiptasi terbentuk di atas level vault, shear angin pada  level tersebut akan menghalangi jatuhnya presipitasi ke zona vault dan memutuskan sirkulasi. Menurut Houze (1993) updraft kuat (10- 40 m/s) dalam supercell memungkinkan terbentuknya hail yang sangat besar. Penampang vertikal dari sebuah supercell dapat dilihat dalam Gb. 1 yang menunjukan sturktur Cb dan tiga tahapan pertumbuhan hail besar Hail akan terbentuk bila partikel es atau butir air hujan yang membeku tumbuh/berkembang dengan menyerap butir-butir awan kelewat dingin. Awan Cb mengandung partikel es dan butir air besar. Hal penting yang perlu dicatat dalam pertumbuhan/pembesaran hail adalah panas laten pembekuan yang dilepaskan saat butir air yang diserap membeku. Akibat panas laten tersebut, suhu dari hail yang tumbuh akan lebih hangat beberapa derajat dibanding suhu awan di sekitarnya. Suhu keseimbangan antara hail dan awan akan tercapai bila total panas yang dilepaskan akibat pembekuan (baik dari fasa air ke padat maupun dari fasa gas ke fasa padat) sama dengan panas yang diserap oleh awan akibat konduksi. Dengan dicapainya keseimbangan suhu maka tidak ada lagi transfer panas dari hail ke lingkungannya. Laju pertumbuhan hail dapat ditentukan dengan menjumlahkan laju pertumbuhan aibat penyerapan butir air dan laju pertumbuhan akibat sublimasi (Rogers, 1979).

Hujan es akan terjadi bila kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan thunderstorm yang merusak karena disertai guntur dan kilat, hujan deras, angin kencang (downburst) dan batu es (hail).Hujan es (hail) di daerah tropis, akan terjadi bila batu es yang turun bersifat kering dan memiliki ukuran yang cukup besar saat keluar dari dasar awan. Hal ini mengingat bahwa suhu udara permukaan cukup tinggi dan batu es masih bisa mempertahankan bentuknya dengan ukuran sekitar 3 mm dalam diameter saat sampai permukaan tanah, sementara dalam perjalannya (jatuh bebas) dari dasar awan sampai tanah batu es harus menyusut ukurannya akibat kontak dengan suhu udara yang cukup tinggi.

Hail tidak sama dengan salju. Curahan ini berasal dari awan Cumulonimbus (Cb) . Awan CB merupakan awan dengan ketinggian dasar yang sangat rendah dan puncaknya menjulang tinggi akibat pemanasan permukaan yang menyebabkan penguapan berjalan intensif.

Awan jenis lain yaitu Cirrus, yang juga mengandung kristal es. Bedanya Cirrus yang berbentuk seperti serabut atau bulu-halus tidak menyebabkan hujan, sehingga tidak membawa hail.

Uap air di udara akibat pemanasan permukaan kemudian berkondensasi atau mengembun menjadi awan. Di dalam awan CB, udara masih naik ke atas sehingga membentuk puncak yang tinggi. Puncak awan yang tinggi inilah yang menyebabkan es terbentuk. Di lapisan terbawah atmospher kita, yaitu troposfir, suhu udara semakin rendah ketika udara semakin jauh dari permukaan. Suhu di puncak awan CB dapat melewati suhu titik beku air nol derajat. Di daerah subtropis dimana siklon atau badai terjadi dari awan Cb, hail dapat menyerang angin kencang dalam badai.

Sama dengan pembentukan tetes air, pembentukan butiran juga dimulai dengan adanya inti kondensasi. Inti kondensasi merupakan tempat ‘melekatnya” uap air sehingga dapat mengalami pengembunan. Inti konsensasi dapat berupa debu atau molekul garam. Mungkin ibu-ibu ingat jika menaruh garam di tempat terbuka, lama kelamaan garam tersebut akan menjadi basah. Butir es terjadi jika awan yang sudah mengandung tetes air sangat dingin. Jika butir es terbentuk, maka ia dapat menangkap tetes air lain sehingga butirannya semakin besar dan akhirnya jatuh karena tidak dapat tertahan arus udara ke atas di dalam awan.

Hail dapat menyebabkan kerugian karena dapat merusak genteng, atap kaca, jendela kaca, kenderaan dan tanaman pertanian. Hujan es tidak hanya bisa terjadi di daerah subtropis saja, tapi bisa juga terjadi diwilayah di ekuator (tropis).Hujan es merupakan salah satu bentuk presipitasi (curahan) selain, hujan (rain) dan gerimis (drizzle), embun (dew), salju (snow) dan kabut (fog).

Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat dingin di atmosfer pada lapisan di atas freezing level. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar. Karena ukurannya, walaupun telah turun ke aras yang lebih rendah dengan suhu yang relatif hangat tidak semuanya mencair.

Proses lain yang dapat menyebabkan hujan adalah riming, dimana uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Karena terjadi pengembunan yang mendadak maka terjadilah es dengan ukuran yang besar.

Proses kondensasi dan pembentukan awan di daerah tropis dan di daerah lintang menengah dan tinggi mempunyai perbedaan yang menyolok. Di daerah tropis umumnya proses kondensasi dan pembentukan awan dapat terjadi pada suhu tinggi (>0 0C) melalui pengangkatan udara atau konveksi yang diakibatkan oleh pemanasan yang kuat. Sedang di daerah lintang menengah dan tinggi proses yang terjadi umumnya karena adanya front yaitu pertemuan massa udara panas dan massa udara dingin.

Cuaca di daerah tropis ditandai dengan perubahan yang cepat dan mendadak. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal seperti adanya garis ekuator dimana gaya coriolli mendekati nol, adanya ITCZ, ridge dan through, awan-awan konvektif, sel hadley dan sirkulasi walker.

Kondensasi terjadi pada berbagai kondisi seperti perubahan volume udara, suhu, tekanan dan kelembaban, apabila :

  • Udara didinginkan sampai titik embunnya meskipun volumenya tetap.
  • Volume udara bertambah tanpa ada penambahan panas karena udara didinginkan melalui ekspansi adiabatik.
  • Perubahan suhu dan volume mengurangi kapasitas kebasahan udara.

Di daerah tropis pembentukan awan terjadi pada suhu tinggi dan dengan kelembaban yang tinggi juga. Dengan demikian awan yang terbentuk mempunyai kandungan air-cair tinggi.

copyrighted by;

http://younggeomorphologys.wordpress.com/2010/04/06/hujanestropis/

Sekilas Tentang Awan CB

Fase yang terdapat dalam awan Cumulunimbus (Cb):

 

(a) Fase Tumbuh

 

 

Sebagaimana awal pertumbuhan awan dimana berawal dari gerakan udara ke atas maka bagian seluruh awan di dominasi oleh gerakan udara naik/UPDRAFT. Hal ini demikian terjadi karena arus naik masih relatif kuat dan butir-butir air yang terbentuk masih relatif kecil sehingga masih dapat ditahan oleh gerakan udara naik. Pada fase ini belum terjadi hujan, Lightning, dan lain-lain.

 

 

 

(b) Fase Dewasa

 

 

Butir-butir air semakin membesar bahkan terbentuk butir-butir es, semakin lama butir-butir es semakin besar dan semakin besar jumlahnya akibat dorongan gerakan udara naik. Oleh karena itu, semakin besarnya butiran-butiran air dan es maka disisi lain bagian awan arus udara naik tidak mampu lagi menahan nya sehingga terjadi arus udara turun (downdraft). Semenjak ketinggian puncak awan mencapai level 10 derajat Celcius maka sudah mulai terjadi Lightning dan selanjutnya mungkin berlanjut menjadi Guntur.

 

Fenomena yang terjadi pada fase dewasa yaitu:

-. Hail (Rambun);

 

 

Lightning / Thunderstorm, yang terjadi pada level 10 derajat celcius (Freezing Level), sampai dengan fase -10 derajat celcius yang dapat terjadi antara awan, dari awan ke udara bebas, dan dari awan permukaan bumi.


Turbulence

Yaitu Gerakan udara yang sangat tidak teratur yang dapat terjadi didalam maupun diluar awan.

 

Icing

Yaitu Suatu proses pertumbuhan yang terjadi pada lapisan temperatur 0 derajat celcius dengan ketinggian 1500 feet keatas.

 

Gusti / Squalls

Yaitu Tiupan angin yang sangat kencang dan mendadak dibawah awan Cumulunimbus (Cb).

 

(c) Fase Punah

 

 

Gerakan udara vertikal keatas /Up draft sudah tidak ada lagi sehingga hanya tersisa gerakan udara ke bawah (down draft) bersama dengan hujan (Rain) ringan.

Angin

Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah. Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi.

 

 

 

Konveksi adalah pergerakan molekul-molekul pada fluida (yaitu cairan atau gas) dan rheid. Konveksi tak dapat terjadi pada benda padat, karena tidak ada difusi yang dapat terjadi pada benda padat. Konveksi merupakan salah satu cara perpindahan panas dan massa utama. Perpindahan panas dan massa terjadi melalui difusi dan adveksi. Perlu diketahui bahwa istilah konveksi biasanya digunakan untuk perpindahan panas melalui konveksi. (Correlations for Convective Heat Transfer)

 

Daftar isi

1 Faktor terjadinya angin

2 Jenis-jenis angin

2.1 Angin laut

2.2 Angin darat

2.3 Angin lembah

2.4 Angin gunung

2.5 Angin Fohn

2.6 Angin Munsoon

2.7 Angin Musim Barat

2.8 Angin Musim Timur

3 Dapat dilihat

 

1. FAKTOR TERJADINYA ANGIN

Faktor terjadinya angin, yaitu: Gradien Barometris Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2 (dua) isobar yang jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan angin. Letak Tempat Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat dari yang jauh dari garis khatulistiwa. Tinggi Tempat Semakin tinggi tempat, semakin kencang pula angin yang bertiup, hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menghambat laju udara. Di permukaan bumi, gunung, pohon, dan topografi yang tidak rata lainnya memberikan gaya gesekan yang besar. Semakin tinggi suatu tempat, gaya gesekan ini semakin kecil. Waktu Di siang hari angin bergerak lebih cepat daripada di malam hari.

 

2. JENIS-JENIS ANGIN

2.1 Angin laut

Angin laut adalah angin yang bertiup dari arah laut ke arah darat yang umumnya terjadi pada siang hari dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 16.00. Angin ini biasa dimanfaatkan para nelayan untuk pulang dari menangkap ikan di laut.

2.2 Angin darat

Angin darat adalah angin yang bertiup dari arah darat ke arah laut yang umumnya terjadi pada saat malam hari dari jam 20.00 sampai dengan jam 06.00. Angin jenis ini bermanfaat bagi para nelayan untuk berangkat mencari ikan dengan perahu bertenaga angin sederhana.

 

2.3 Angin lembah

Angin lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke arah puncak gunung yang biasa terjadi pada siang hari.

 

2.4 Angin gunung

Angin gunung adalah angin yang bertiup dari puncak gunung ke lembah gunung yang terjadi pada malam hari.

 

2.5 Angin Fohn

Angin Fohn/angin jatuh adalah angin yang terjadi seusai hujan Orografis. angin yang bertiup pada suatu wilayah dengan temperatur dan kelengasan yang berbeda. Angin Fohn terjadi karena ada gerakan massa udara yang naik pegunungan yang tingginya lebih dari 200 meter di satu sisi lalu turun di sisi lain. Angin Fohn yang jatuh dari puncak gunung bersifat panas dan kering, karena uap air sudah dibuang pada saat hujan Orografis. Biasanya angin ini bersifat panas merusak dan dapat menimbulkan korban. Tanaman yang terkena angin ini bisa mati dan manusia yang terkena angin ini bisa turun daya tahan tubuhnya terhada serangan penyakit.

 

2.6 Angin Munsoon

Angin Munsoon, Moonsun, muson adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit. Pada bulan April-Oktober, matahari berada di belahan langit utara, sehingga benua asi lebih panas daripada benua australia. Akibatnya, di asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di australia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari australia menuju asi. Di indonesia terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh kerena tidak melewati lautan yang luas maka angin tidak banyak mengandung uap air oleh karena itu pada umumnya di indonesia terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat sumatera, sulawesi tenggara, dan pantai selatan irian jaya. Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba (peralihan), yaitu : Musim kemareng yang merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, dan musim labuh yang merupakan peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu: Udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu singkat dan lebat. Angin Munson dibagi menjadi 2, yaitu Munson Barat atau dikenal dengan Angin Musim Barat dan Munson Timur atau dikenal dengan Angin Musim Timur.

 

2.7 Angin Musim Barat

Angin Musim Barat/Angin Muson Barat adalah angin yang mengalir dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di Indonesia bagian Barat, hal ini disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan. Angin ini terjadi pada bulan Desember, januari dan Februari, dan maksimal pada bulan Januari dengan kecepatan minimum 3 m/s.

 

2.8Angin Musim Timur

Angin Musim Timur/Angin Muson Timur adalah angin yang mengalir dari Benua Australia (musim dingin) ke Benua Asia (musim panas) sedikit curah hujan (kemarau) di Indonesia bagian Timur karena angin melewati celah- celah sempit dan berbagai gurun (Gibson, Australia Besar, dan Victoria). Ini yang menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau. Terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus, dan maksimal pada bulan Juli.

 

3. Dapat dilihat:

• Aurora

• Awan

• Badai

• Cuaca

• Guntur

• Hujan

• Isobar

• Kabut

• Petir

• Pelangi

• Salju

• Topan

 

Copyrighted by_ http://id.wikipedia.org/wiki/Angin